Mengapa Gagal Jantung Senang Menghampiri Orang Usia Lanjut

Kesehatan Jantung

Jantung

Abdul (72 tahun) mengeluh sesak napas usai memberi khotbah shalat Jumat. Pria lanjut usia (lansia) ini pun segera dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter yang merawat, Abdul menderita gagal jantung.

Bagi kakek dari belasan cucu ini, masalah jantung memang bukan sesuatu yang baru. Lima tahun silam misalnya, ia divonis menderita penyakit jantung koroner. Rupanya, selama beberapa tahun ini, kondisi penyakitnya tidak membaik, bahkan sebaliknya memburuk hingga terjadilah gagal jantung.

Dalam pandangan dr Budi Yuli Setianto SpPD SpJP(K), spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Dr Sardjito/Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, gagal jantung merupakan keadaan klinis yang sangat serius dan tidak menyenangkan. Berbagai keluhan mulai dari sesak napas, rasa lelah dan edema merupakan kondisi yang sangat tidak nyaman bagi penderita. Belum lagi keharusan minum obat secara terus-menerus dan efek samping obat yang mungkin terjadi.

Budi mengatakan, penyebab gagal jantung cukup banyak, antara lain: penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes mellitus (kencing manis). Hal senada juga dikatakan Prof Dr Wasilah Rochmah SpPD KGer. ”Penyakit jantung koroner, hipertensi dan penyakit katup jantung merupakan penyebab utama gagal jantung pada usia lanjut,” kata Wasilah ketika berbicara pada Yogya Cardiology Update ke-3 Tahun 2007, di Yogyakarta, belum lama ini.

Di Amerika Serikat, gagal jantung menjadi penyebab utama para lansia (berusia 65 tahun atau lebih) dirawat di rumah sakit. Walaupun patofisiologi gagal jantung dapat dikatakan hampir sama antara usia muda dan usia lanjut, namun usia lanjut cenderung lebih mudah mengalami gagal jantung bila berhadapan dengan berbagai stresor. ”Hal ini disebabkan oleh menurunnya kemampuan usia lanjut dalam merespons suatu stresor,” jelas Wasilah.

Lebih jauh Wasilah menerangkan, manifestasi gagal jantung pada usia lanjut sering tertutup oleh kondisi penyakit yang menyertai, seperti nokturia (kencing berlebihan pada malam hari). ”Keadaan ini bisa disebabkan oleh gangguan toleransi glukosa atau diabetes, atau karena hipertrofi prostat.”

Sementara manifestasi akut dari gagal jantung pada usia lanjut di antaranya, lethargy (kelesuan), confusion (kebingungan), tidak ada keinginan untuk melakukan aktivitas, gelisah (kemungkinan karena timbulnya sesak napas), dan anoreksia (hilangnya nafsu makan).

Bisakah gagal jantung dicegah? Jawabnya, bisa. Caranya, seperti dikatakan Budi, mendeteksi dini penyakit jantung koroner atau menghindari faktor risiko jantung koroner. Adapun faktor risiko jantung koroner adalah merokok, hipertensi, dislipidemia, diabetes, kurang olahraga, dan obesitas (kegemukan). Khusus bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas hendaknya menghindari makanan serba manis, banyak garam, dan banyak lemak.

Untuk pengobatan, lansia yang menderita gagal jantung hampir pasti harus meminum obat dalam jangka waktu lama, bahkan seumur hidup. Ini karena gagal jantung merupakan penyakit yang bersifat kronis. Selain lama, jenis obat yang harus diminum oleh penderita juga lebih banyak. ”Hal ini karena adanya komorbiditas baik berupa impairment (kelemahan), disability (kecacatan), atau penyakit penyerta yang ada,” kata Wasilah.

Penyakit jantung pada lansia mempunyai penyebab yang multifaktorial yang saling tumpang tindih.  Untuk itu kita harus terlebih dahulu memahami mengenai konsep Faktor Resiko dan Penyakit Degeneratif. Faktor resiko adalah suatu kebiasaan, kelainan dan faktor lain yang bila ditemukan / dimiliki seseorang akan menyebabkan orang tersebut secara bermakna lebih berpeluang menderita penyakit degeneratif tertentu.

Penyakit degeneratif adalah suatu penyakit yang mempunyai penyebab dan selalu berhubungan dengan satu faktor resiko atau lebih, di mana faktor-faktor resiko tersebut bekerja sama menimbulkan penyakit degeneratif itu. Penyakit degeneratif itu sendiri dapat menjadi faktor resiko untuk penyakit degeneratif lain. Misalnya: penyakit jantung dan hipertensi merupakan faktor resiko stroke.

Inilah yang menyebabkan pembahasan mengenai penyakit jantung pada lansia dapat berkembang sangat luas, yaitu karena adanya keterkaitan yang sangat erat antara penyakit yang satu dengan penyakit yang lain.

Berdasarkan data yang didapat dari penelitian di USA pada tahun 2001, penyakit jantung yang sering ditemukan adalah Penyakit Jantung Koroner 13%,  Infark Miokard Akut  8%, Kelainan Katup 4%, Gagal jantung 2%, Penyakit Jantung Hipertensif dan Hipertensi 1%.

A. Penyakit Jantung Koroner dan Infark Miokard

PJK merupakan penyakit yang paling sering ditemukan pada lansia.  Dengan mengkombinasikan laporan insiden MI dan Angina Pektoris, badan National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) III di USA, didapat data bahwa sekitar 27% pria dan 17% wanita berusia 80 tahun ke atas menderita PJK.  Sedangkan pada kelompok umur 65-74 tahun, didapat 64% masalah jantung pada pria dan 60% pada wanita adalah PJK.

Resiko seseorang untuk menderita PJK adalah satu dari tiga untuk pria, dan satu dari empat untuk wanita. Di atas umur 65 tahun, tingkat mortalitas akibat MI adalah tinggi. Sekitar 8% meninggal setiap tahunnya akibat MI dan sisanya diperkirakan akan mengalami serangan infark yang fatal dalam waktu 10 tahun ke depan. Akan tetapi, lebih dari sepertiga kasus MI tidak diketahui, entah karena perjalanan penyakitnya yang laten atau karena gejalanya yang tidak khas.

PJK adalah manifestasi umum dari keadaaan pembuluh darah yang mengalami pengerasan dan penebalan dinding, disebut juga Aterosklerosis. Tapi selain itu stenosis aorta, kardiomiopati hipertrofi dan kelainan arteri koronaria kongenital juga dapat menyebabkan PJK.

Ada 3 macam faktor resiko PJK :

  1. Yang tidak dapat dihindari : umur, jenis kelamin, faktor keturunan.
  2. Yang sukar dihindari : kepribadian
  3. Yang dapat dihindari/dibatasi : merokok, hipertensi, DM, obesitas, hiperkolesterolemia.

B. Gagal jantung

Gagal jantung adalah merupakan suatu sindrom, bukan diagnosa penyakit. Sindrom gagal jantung kongestif (Chronic Heart Failure/ CHF) juga mempunyai prevalensi yang cukup tinggi pada lansia dengan prognosis yang buruk. Prevalensi CHF adalah tergantung umur atau age-dependent. Menurut penelitian, gagal jantung jarang pada usia di bawah 45 tahun, tapi menanjak tajam pada usia 75 – 84 tahun.

Dengan semakin meningkatnya angka harapan hidup, akan didapati prevalensi dari CHF yang meningkat juga. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya lansia yang mempunyai hipertensi akan mungkin berakhir dengan CHF. Selain itu semakin membaiknya angka keselamatan (survival) post-infark pada usia pertengahan, menyebabkan meningkatnya jumlah lansia dengan resiko mengalami CHF.

CHF terjadi ketika jantung tidak lagi kuat untuk memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Fungsi sitolik jantung ditentukan oleh empat determinan utama, yaitu: kontraktilitas miokardium, preload ventrikel (volume akhir diastolik dan resultan panjang serabut ventrikel sebelum berkontraksi), afterload ke arah ventrikel, dan frekuensi denyut jantung.

Terdapat 4 perubahan yang berpengaruh langsung pada kapasitas curah jantung dalam menghadapi beban :

  • Menurunnya respons terhadap stimulasi beta adrenergik akibat bertambahnya usia. Etiologi belum diketahui pasti. Akibatnya adalah denyut jantung menurun dan kontraktilitas terbatas saat menghadapi beban.
  • Dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku pada usia lanjut karena bertambahnya jaringan ikat kolagen pada tunika media dan adventisia arteri sedang dan besar. Akibatnya tahanan pembuluh darah (impedance) meningkat, yaitu afterload meningkat karena itu sering terjadi hipertensi sistolik terisolasi.
  • Selain itu terjadi kekakuan pada jantung sehingga compliance jantung berkurang. Beberapa faktor penyebabnya: jaringan ikat interstitial meningkat, hipertrofi miosit kompensatoris karena banyak sel yang apoptosis (mati) dan relaksasi miosit terlambat karena gangguan pembebasan ion non-kalsium.
  • Metabolisme energi di mitokondria berubah pada usia lanjut.

Keempat faktor ini pada usia lanjut akan mengubah struktur, fungsi, fisiologi bersama-sama menurunkan cadangan kardiovaskular dan meningkatkan terjadinya gagal jantung pada usia lanjut.

Penyebab yang sering adalah menurunnya kontraktilitas miokard akibat Penyakit Jantung Koroner, Kardiomiopati, beban kerja jantung yang meningkat seperti pada penyakit stenosis aorta atau hipertensi, Kelainan katup seperti regurfitasi mitral.

Selain itu ada pula faktor presipitasi lain yang dapat memicu terjadinya gagal jantung, yaitu :

  • Kelebihan Na dalam makanan
  • Kelebihan intake cairan
  • Tidak patuh minum obat
  • Iatrogenic  volume overload
  • Aritmia : flutter, aritmia ventrikel
  • Obat-obatan: alkohol, antagonis kalsium, beta bloker
  • Sepsis, hiper/hipotiroid, anemia, gagal ginjal, defisiensi vitamin B, emboli paru.

C. Kelainan Katup

Bising sistolik dapat ditemukan pada sekitar 60% lansia, dan ini jarang sekali diakibatkan oleh kelainan katup yang parah.  Pada katup aorta, stenosis akibat kalsifikasi lebih sering ditemukan daripada regurgitasi aorta. Tapi pada katup mitral, regurgitasi sangat sering dijumpai dan lebih banyak terdapat pada wanita daripada pria.

Pada lansia sering terdapat bising sistolik yang tidak mempunyai arti klinis yang berarti. Tapi harus hati-hati membedakan fisiologis dengan yang patologis. Bising patologis menandakan adanya kelainan katup yang berat, yang bila tidak ditangani dengan benar akan mengakibatkan hipertrofi ventrikel dan pada akhirnya berakhir dengan gagal jantung.

Stenosis katup aorta etiologinya adalah akibat kalsifikasi/degeneratif. Stenosis aorta akan berakibat pada pembesaran ventrikel kiri. Dapat terjadi tanpa disertai gejala selama beberapa tahun. Tapi pada akhirnya kondisi ini akan berakhir dengan kerusakan ventrikel permanen yang akhirnya mengakibatkan komplikasi-komplikasi seperti pulmonary vascular congestion (dengan sesak nafas), aritmia ventrikel dan heart block.

Sedangkan kelainan pada katup mitral juga dapat mengakibatkan terjadinya Atrial fibrillation dan gagal jantung.  Etiologi dari Mitral Stenosis sering disebabkan karena rheumatic fever. Kadang juga disebabkan karena kalsifikasi/degeneratif, tapi jarang.

D. Hipertensi dan Penyakit Jantung Hipertensif

Semakin tua, tekanan darah akan bertambah tinggi.  Prevalensi hipertensi pada orang-orang lanjut usia adalah sebesar 30-65%.

Hipertensi pada lansia sangat penting untuk diketahui karena patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan hipertensi pada usia dewasa muda.  Pada pasien lansia, aspek diagnostik yang dilakukan harus lebih mengarah kepada hipertensi dan komplikasinya serta terhadap pengenalan berbagai penyakit komorbid pada orang itu karena penyakit komorbid sangat erat kaitannya dengan penatalaksanaan keseluruhan.

Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi (occult). Seringkali yang terlihat adalah gejala akibat penyakit, komplikasi atau penyakit yang menyertai.

Peningkatan tekanan darah sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi yang esensial, sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah secara akurat. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada penderita dengan cukup istirahat, sedikitnya setelah 5 menit berbaring dan dilakukan pengukuran pada posisi berbaring, duduk dan berdiri sebanyak 2 kali atau lebih, dengan interval 2 menit. Cara pengukuran yang saat ini dianggap baku dikemukakan oleh The British Hypertension Society. Manset sedikitnya harus dapat melingkari 2/3 lengan, bagian bawahnya harus 2 cm diatas fossa cubiti.

Pemeriksaan laboratorium apa saja yang diperlukan untuk hipertensi masih merupakan perdebatan. Hipertensi yang sering terdapat 90%nya adalah jenis yang idiopatik / tidak diketahui sebabnya. Jadi tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan kecuali bila ada indikasi. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan ureum, kreatinin, kalium, kalsium, urinalisis, asam urat, glukosa darah, dan profil lemak. Pemeriksaan penunjang lain contohnya elektrokardiografi, pielografi intravena dan foto rontgen thorax.

Dr Utojo Lubiantoro, Intervention Cardiologist dari Jakarta Heart & Vasculer Center RS Mitra Keluarga Jakarta, mengatakan penyakit gagal jantung merupakan penyebab utama kematian mendadak.

Selain itu, penyakit yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak teratur dan kurang olah raga ini juga merupakan salah satu penyebab Stroke.

Menurut Utojo Lubiantoro, penyebab gagal jantung adalah Aterosklerosis, yaitu terjadinya pengerasan dan penyempitan pembuluh darah nadi (arteri) karena terbentuknya plak dalam pembuluh darah arteri secara perlahan-lahan.

Utojo mengatakan, pria lebih dini mempunyai resiko terbesar terkena penyakit ini, yaitu pada usia 45 tahun sedangkan wanita diatas usia 55 tahun.

Faktor-faktor penyebab gagal jantung adalah orang-orang yang memiliki penyakit hipertenisi, hiperkolesterolemia, perokok, diabetes, obesitas dan seseorang yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung dan tentunya pola hidup yang tidak teratur serta kurang olah raga.

Tanda-tanda serangan jantung menurut Utojo, adalah adanya perasaan dada tidak enak (chest discomfort). yaitu adanya rasa nyeri di sekitar dada yang menjalar ke bagian leher, lengan, punggung atau ulu hati.

Serangan jantung terjadi bisa secara mendadak akibat pecahnya plak dan bekuan darah, atau secara perlahan (golden period) yang terjadi berkisar selama 6 jam akibat otot jantung rusak permanen karena aliran darah tidak mengalir lagi.

Penanganan bagi pasien yang terkena serangan jantung adalah dilakukannya Balloon Angioplasty, yaitu dengan cara memasukkan sebuah kateter pemandu kedalam pembuluh darah arteri koroner yang mengalami penyumbatan, kemudian kateter balloon dimasukkan melalui kateter pemandu hingga mencapai lokasi penyumbatan lalu dilakukan peniupan selama satu atau tiga menit hingga melancarkan kembali peredaran darah. (Suaramedia.com)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Health dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s