Awas! Kurang Pergaulan Pertinggi Angka Kematian

UTAH (Berita SuaraMedia) – Tak ada seorang pun yang mampu bertahan hidup kesepian tanpa bantuan teman. Meski seringkali hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol atau membahas hal remeh-temeh, memiliki teman-teman yang baik juga dipercaya dapat memperpanjang hidup seseorang.

Manusia tidak bisa hidup kesepian

Orang yang kurang pergaulan (kuper) perlu mencermati hal ini. Penelitian membuktikan orang yang tidak memiliki kehidupan sosial punya kecenderungan mati muda 50 persen lebih besar ketimbang mereka yang suka bergaul. Perbandingan angka harapan hidup antardua golongan itu mencapai 3,7 tahun.
Menurut sekelompok peneliti dari Universitas Utah dan North Carolina Amerika Serikat orang-orang kuper memiliki angka kematian yang setara dengan pecandu alkohol. “Sedangkan dampak memiliki banyak teman sama seperti berhenti merokok,” ujar Profesor Burt Urchino, kepala tim peneliti.

Keberadaan teman, dia melanjutkan, membuat hidup seseorang lebih mudah. Mulai dari meminjamkan uang, memberi tumpangan, membantu menjaga bayi, sampai menjaga kesehatan. “Secara tidak langsung teman memberi alasan kita untuk terus hidup,” katanya.

Dukungan emosional yang diberikan teman dekat dapat membantu seseorang untuk melihat suatu masalah lebih jelas. “Dengan memiliki hubungan dan merasa dicintai, kita bisa hidup lebih tenang dan aman,” ujar Uchino.

Penelitian ini diambil dari 148 studi data kematian sepanjang tiga dekade, yang melibatkan lebih dari 300 ribu sampel. Menurut Uchino, hubungan antara maut dan kematian ini berlaku tanpa melihat perbedaan jenis kelamin dan kondisi kesehatan.

Jadi, mengutip jargon iklan rokok, teman bukan sekedar meramaikan suasana, tapi terbukti bikin hidup lebih hidup.

Padahal, dengan kehilangan hubungan sosial, sama artinya kehilangan dukungan sosial. Lebih jauh, Lundstand mengatakan, kehilangan hubungan sosial dampaknya lebih buruk dibanding obesitas atau tidak berolahraga.

Hal itu disebabkan karena teman-teman, relasi, dan keluarga memiliki banyak cara untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. “Ketika seseorang terhubung dalam sebuah kelompok dan memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, maka mereka cenderung merawat diri lebih baik,” kata Lundstad.

Peserta studi ini mencakup semua orang dari berbagai latar belakang dan umur yang diketahui memiliki kasus yang sama dalam masalah kesehatan. Berdasarkan riset selama tujuh tahun itu, lebih dari 300.000 orang dari empat benua menunjukkan perbaikan tingkat kesehatan karena memiliki hubungan sosial yang kuat. Bahkan, usia mereka dua kali lebih panjang dari orang yang kesepian.

“Efek dari membina hubungan sosial menyebabkan orang dewasa tidak merasa terisolasi. Membina hubungan sosial akan memberikan perlindungan kesehatan lintas usia,” kata Timothy Smith, salah seorang anggota tim peneliti.

Namun di sisi lain, Timothy juga memperingatkan bahwa kenyamanan dan teknologi yang ditawarkan era modern dapat menyebabkan beberapa orang berpikir bahwa tatap muka tidak diperlukan lagi dalam membina hubungan sosial.

Jejaring sosial
Christine Northam, seorang konselor untuk masalah jejaring sosial, mengatakan bahwa pertemanan adalah hal yang penting dalam upaya mempertahankan hidup. “Kita dirancang untuk hidup dan bekerja dalam kelompok. Ini dimulai di masa kanak-kanak bersama keluarga, lalu sekolah memperluas jejaring sosial kita,” jelas Northam.

Menurutnya, jejaring sosial membantu kita mempertahankan kesehatan mental dan kesejahteraan. Di sisi lain, pengisolasian berkaitan dengan penyakit mental, kecemasan, dan kesehatan yang buruk.

Selain itu, Michelle Mitchell dari Age UK mengatakan, penyakit dapat menjadi penghalang untuk memelihara hubungan sosial. “Bukan rahasia lagi kalau hubungan sosial penting artinya untuk meningkatkan perasaan bahagia orang tua. Namun sayangnya, satu dari 10 orang yang berusia di atas 65 tahun kerap merasa kesepian. Banyak orang di masa tuanya harus berjuang mempertahankan hubungan sosial meski mendapat kesulitan dalam mobilitas, akses transportasi atau setelah kematian pasangan. Isolasi dan kesepian dapat menyebabkan gejala depresi, yang mempengaruhi satu di antara empat orang lanjut usia,” ujarnya. (fn/tm/km) http://www.suaramedia.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Health, Life Philosophy dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s